Rabu, 21 Maret 2012
Fotografi dan Kebiasaan Orang Indonesia
Saya tidak akan menjelaskan fotografi secara detail.
penjelasan lebih lengkap tentang fotografi bias anda dapat dari berbagai
sumber. Melalui buku atau diinternet bermacam-macam pendapat tentang fotografi
dari para ahli. Namun menurut saya fotografi bukan sekedar merekam atau
mengabadikan suatu momen, tapi bagaimana gambar yang kita hasilkan melalui
kamera memiliki cerita yang ingin kita sampaikan.
Teknologi yang tak kenal batas semakin
memudahkan masyarakat untuk belajar dan menguasai kamera tanpa harus sekolah
fotografi atau kursus sejenis. Kemajuan teknologi memang memacu fotografi
secara sangat cepat. Sejak ditemukannya computer dunia fotografi mengalami
perkembangan yang cukup pesat dan hampir tidak terbendung lagi. Inovasi-inovasi
dilakukan oleh produsen untuk memproduksi kamera dan perlengkapannya seperti
lensa mnenjadi lebih lengkap dengan fitur-fitur yang memudahkan para
penggunanya dan tentunya lebihterjangkau. Saat ini, siapa pun dapat mempelajari
pemakaian kamera digital. Dengan budget antara 5 hingga 8 juta rupiah, kita
sudah dapat membeli kamera digital jenis SLR berkualitas bagus. Saya sendiri
memiliki kamera jenis canon.
Munculnya jejaring social seperti facebook
memjadikan orang lebh tertarik dengan dunia fotografi. Berlomba-lombalah mereka
terjun ke dunia fotografi, bahkan tidak sedikit yang mencoba menekuninya.
kursus, membeli kamera berkualitas serta lensa yang bermacam-macam, hunting
foto. unjuk kualitas hasil fotonya melalui jejaring sosial, lihatlah foto baru
yang diunggah ke facebook tiap harinya. dari foto pemandangan sampai foto yang
menempelkan telunjuk di depan bibir. kegiatan ini tentu adalah kegiatan yang
positif karena dunia fotografi memacu kita untuk mengeluarkan daya imajinasi
dan kreativitas kita. Mengeksplore ide-ideyang baru dan belum pernah ada.
Tapi jangan sampai ini hanya jadi budaya masyarakat
Indonesia yang suka ikut-ikutan ketika ada sesuatu yang booming, si A beli
kamera SLR, lalu si B ikut-ikutan minta uang kepada orangtuanya (semoga
orangtua si B mampu). Begitu seterusnya si C punya SLR dibawah ke sekolah,
kekampus ke mall atau kemanasaja meneteng SLRnya. tapi sebenarnya selalu pake
mode auto. janganlah kamera yg mahal dijadikan semacam tuntutan pergaulan.
seseorang akan dianggap gaul jika telah menenteng SLR kemana-mana.
Syukur-syukur jika kita memang menekuni dunia fotografi dengan serius, membeli
kamera yang bagus, dan memperoleh penghasilan dari fotografi. ini baru jempol.
Kalo cuma sebatas hobby, mulailah dari yang murah.
jangan menyusahkan orang tua kita. toh gambar yang diambil dari kamera digital
atau kamera handphone bisa diedit lagi dan hasilnya tidak mengecewakan. tapi
memang tidak bisa dipungkiri, ketika kita akan mengambil foto dengan kamera
digital atau handphone, lalu disebelah kita ada sesorang yang mengintip dari
balik lensa apalagi yang 'moncong panjang', kita akan otomatis memasukan kamera
atau handphone kita ke dalam saku. semacam tindakan alam bawah sadar.
jadi mengungkapkan seni foto tak mesti latah dan
memakai kamera yang mahal. tenang saja, seni punya mata-mata tersendiri yang
menanggapnya bagus. tak perlu ikut-ikutan, setiap orang punya aliran sendiri
dalam menciptakan karya fotonya. itulah ciri khas yang membuatnya akan dikenal.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)













0 komentar:
Posting Komentar