Ads 468x60px

Senin, 02 April 2012

NEGRIKU MALANG

Unjuk rasa mengenai penolakan kanaikan harga BBM sepertinya sudah berkurang setelah kurang lebih dua pekan aksi yang yang dilakukan oleh mahsiswa, organisasi kepemudaan, bahkan masyarakan dan buruh hampir kita temui disetiap jalan-jalan protokol di Makassar.  Penyampaian aspirasi  yang dilakukan oleh para demonstran pun dengan teknis yang berbeda-beda, ada yang sekedar menyampaikan aspirasi mereka dengan berorasi sambil bakar ban, ada yang melakukannya dengan menggunakan tetrikal, bahkan ada yang tidak segan-segan sholat di jalan. Namun semua itu sepertinya tidak lengkap ketika tidak memblokade jalan, menutup dan menguasainya dan tidak memperbolehkan siapapun untuk melewati jalan tersebut.

Jalan sultan alauddin pun demikian, hampir sepekan jalan ini ditutup oleh demonstran dari berbagai kalangan meskpun didominasi oleh mahasiswa UIN Alauddin dan Unismuh Makasar. Bahkan tidak jarang para demonstran berhadapan dengan aparat bahkan masyarakan yang merasa terganggu dengan aksi unjuk rasa yang dilakukan mahasiswa. Namun sebagian menganggap bahwa masyarakan yang mencoba menghentikan aksi mahasiswa merupakann preman bayaran dari kepolisian.

Seperti yang terjadi pada hari Kamis (27/04), seperti biasa para mahaiswa melakukan aksi di jalan sultan alauddin tepatnya depan kampus  I UIN Aladdin. Namun aksi ini berbeda dengan aksi sebelumnya, ribuan massa memenuhi jalan sultan alauddin. Kehadiran polisi memicu bentrok. Mengingat psikologi massa yang begitu banyak, menjadikan massa berani melakukan apa saja. Bentrok pun tak terhindarkan.

Namun yang menjadi pertanyaan. Kenapa ada demonstran yang terkena busur. Apakah selain tameng, rotan dan senapan gas air mata polisi dibekali dengan busur. Saya mencoba mencari tau, dan Seseorang yang berada ditengah-tengah kejadian tersebut menceritakan kepada saya. Kesimpulannya, ternyata bukan polisi yang melakukan itu, penyebabkan beberapa orang demonstran terkena busur adalah preman yang diduga bayaran aparat. Bahkan tidak segan-segan para preman ini memasuki kampus UIN Alauddin dan melempari siapa saja yang mereka temui. Polisi bahkan tidak berusaha mengamankan para preman yang menyerang para mahasiswa, bahkan polisi menembakkan gas air mata kearah mahasiswa yang sudah berlarian kedalam kampus, alasan inilah yang yang memperkuat bahwa para preman ini adalah preman bayaran polisi yang menyerang mahasiswa sampai kedalam kampus.

Sungguh ironis polisi yang seharusnya menjadi pengayong masyarakan, penjadi pelindung dan mencegah terjadinya anarkis malah mebiarkan.sedikitnya mesin ATM yang berada di UIN Alauddin dirusak oleh oknum penyerang.

Jamaah yang sedang melakukan sholat magrib pun terkena imbas gas air mata yang ditembakkan polisi, karena mesjid yang berada tidak jauh dari jalan raya, dan pada saat itu para jamaah sedang sholat maghrib.

Sungguh malang nasib mahasiswa, berniat menyampaikan aspirasi dan membela rakyat malah diperhadapkan dengan keadaan yang mengancam nyawa mereka. Sungguh ironis Negara yang menjunjung tinggi Demokras, kebebasan menyampaikan pendapat malah berbanding terbalik dengan realita.
Negriku malang………….

0 komentar:

Posting Komentar

 

Sample text

Sample Text