"tidak pernah terlintas dipikiranku, sedikitpun untuk
mempermainkan perasannya. Mungkin aku yang tidak pekah menanggapi perasaannya
selama ini. cara dia bicara terhadapku, cara dia memandangku, cara dia tertawa
dihadapanku, gerakgeriknya saat bersamaku, semua kuanggap biasa-biasa saja,
kusamakan dia dengan yang lain, kuanggap dia sebagai adik,tak lebih,,, U aja
yang berlebihan". ucapnya sore itu, menanggapi pertanyaan Dika.
suasana sore dekat
danau belakang kampus memang indah, airnya yang begitu jernih, ditambah
tebing-tebing yang membentuk seperti pahatan yang disusun rapi mengelilingi
danau. disinilah tempat Zaki paling banyak menghabiskan sore bersama kamera
yang tergantung rapi di pundak kanannya. bocah-bocah belasan tahun yang asyik
berenang dipinggir danau, sesekali melompat dari tebing yang berjarak dua meter
dari permukaan air. rumput ilalang yang terhampar sejauh mata memandang mulai
tampak kekuningan memantulkan cahaya matahari yang seakan enggan menampakan
keganasannya.
inilah salah satu alasan mengapa zaki lebih sering menghabiskan
sorenya ditempat ini. objek untuk menyalurkan hasrat fotografinya begitu
banyak, seakan dia terlepas dari masalah dan tanggung jawab untuk sejenak.
Dika yang saat itu bersamanya pun dengan tenang mendengarkan
penjelasan Zaki tentang Airin yang khir-akhir ini menjadi murung tak lagi ceria
seperti biasa.
“begitu yah...” sahut dika,
dengan sedikit bergumam.
“ah.. tapi sepertinya tidak
mungkin jika airin menganggapku orang yang spesial dalam hidupnya” selah zaki
sambil mengangkat kamera yang tergantung dilehernya, dengan cepat merekan bocah
yang lopat dari tebing .
“Setauku dia mengenalku cukup dekat, dia
pasti tau bagaimana saya. Saya tidak pernah membedakan antara dia dan yang
lain, Cuma dia adalah orang yang pertama saya kenal saat penerimaan mahasiswa
baru yang lalu, lebih tepatnya orang pertama yang merepotkanku. yah... jadi
wajarlah jika saya sedikit lebih dekat dengan dia ketimbang yang lain,,
itung-itung balas dendam... hehhehhehhe.....”.